Resiko Sebuah Kejujuran

Kisah ibu Siami dari Surabaya telah menunjukkan kepada kita, kejujuran memang mahal harganya. Bahkan atas kejujuran yang disampaikan terkait adanya contekan massal dalam ujian nasional di sebuah sekeloh, ia harus menangggung resiko diusir oleh seluruh warga di mana ia tinggal. Belum lagi teror dan caci maki yang ia terima.

Patut kita dukung dan contoh sepenuhnya kejujuran yang Ibu Siami lakukan. Apa yang ia lakukan adalah tanpa pamrih, tanpa ada bahasa politis yang melilitnya, tak ada kepentingan politik.

Keteladanan soal kejujuran ditunjukkan oleh ibu Siami, sebagai wali murid pembongkar kecurangan ujian nasional merupakan gebrakan yang tulus tanpa pamrih. Beda halnya dengan para politisi yang hanya mengedepan kejujuran semu dan penuh retorika dalam menyampaikan kejujuran.

Ada kecenderungan bahwa ada ketidaksiapan dalam diri masyarakat kita untuk menerima sebuah kejujuran seperti yang ibu Siami sampaikan.

Menurut saya, reaksi masyarakat begitu berlebihan bukan tanpa dasar, mungkin sebagai wali murid, mereka khawatir setelah terungkap adanya contek massal, pelaksanaan ujian nasional akan diulang, dan anak-anak tidak akan siap menjalaninya. Hal ini tentu akan mengganggu psikologis anak secara keseluruhan.

Resiko Sebuah Kejujuran - Walaupun contekan massal ternyata tidak terbukti dan tidak akan ada ujian ulang, seperti yang disampaikan Menteri Pendidikan Nasional M Nuh beberapa waktu lalu. Namun setidaknya hal itu menjadi teror bagi siswa didik.

Apa yang terjadi di SDN Gadel II, Tandes, Surabaya, dan sejumlah kasus kecurangan dalam ujian nasional, di sejumlah sekolah di berbagai daerah perlu harus mendapat perhatian yang serius oleh dinas pendidikan nasional.

Ini adalah merupakan tragedi nasional, di mana sebuah kejujuran justru dianggap sebagai musuh bersama. Kejujuran dianggap sebagai momok yang menakutkan, kondisi ini jelas sudah pada tingkat sangat mengkhawatirkan.

Ada yang salah dalam menerapkan sebuah system dalam membangun kecerdasan bangsa. Pemberian sanksi pencopotan jabatan kepala sekolah setempat dan sanksi penurun pangkat terhadap para guru tidak akan menyelesaikan masalah. Jika tak ada penerapan system dan perbaikan yang pas dalam ujian nasional, maka aksi contek massal dapat dipastikan akan terulang kembali dalam ujian-ujian sekolah tahun berikutnya.

Jika hal ini dibiarkan, dampak yang lebih luas, bangsa ini akan kehilangan peradaban, sehingga anak-anak kita tak lagi memiliki kejujuran, dan itu artinya generasi muda sebagai penerus bangsa tergambar gelap.
(Hendriwan Angkasa)

sumber: okezone

0 comments:

Poskan Komentar

Silahkan berikan Saran dan Kritiknya, untuk kemajuan blog dan kenyamanan bersama.