Penanganan Masalah Sampah Elektronik

Penanganan Masalah Sampah Elektronik
Penggunaan alat-alat elektronik menimbulkan maslah limbah yang sangat membahayakan manusia dan lingkungan hidupnya. Hal ini diharuskan adanya penanganan masalah agar tidak berkelanjutan. 

Salah satu upaya guna menjadikan industri elektronik di Jerman dapat menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan telah dilakukan IZM Fraunhofer Institute di Berlin, diantaranya dengan terus bekerja sama bersama kalangan Litbang industri guna merumuskan TPI-Toxic Potential Indicator disamping melakukan riset guna mengembangkan teknik dan metode yang selaras dengan tuntutan kelestarian lingkungan hidup. Data TPI misalnya berisikan index tinggi potensi bahaya kandungan racunan dari material logam komponen telepon seluler.

Riset IZM Fraunhofer Institute juga menghasilkan temuan solder dari amalgam campuran yang terdiri atas material tin-silver-coper sebagai alternatif pengganti solder dengan bahan dasar timbal yang berdaya cemar yang sangat tinggi terhadap lingkungan hidup. Dengan menerapkan kaidah serupa itu maka produk telepon seluler bebas timbal atau “lead-free cellphones” buatan Jerman dapat diwujudkan dengan segera.

Bagi pengguna telepon selular Indonesia yang pertumbuhan pasarnya terbilang cukup tinggi di kawasan Asia Pasifik, maka cepat atau lambat tentu akan menghadapi ancaman timbunan sampah produk elektronik yang dapat membebani lingkungan hidup.


Pesatnya dorongan meningkatnya penggunaan telepon seluler juga mesti mengingat karakteristik sebagian tertentu pengguna hp masa kini di Asia – termasuk Indonesia – yang menganggap perangkat hand-phone layaknya bagai “fashion” hingga merasa perlu cukup sering untuk berganti model dalam jangka waktu relatif singkat.

Agaknya dalam menyambut kewajiban pemberlakuan proses daur ulang dalam produksi telepon selular, maka produsen Motorola yang mengklaim telah siap dengan produk telepon seluler masa depan yang 85% komponennya dari material yang siap didaur ulang boleh dipandang sebagai salah satu yang terdepan guna menghasilkan produk telepon seluler yang ramah lingkungan atau “greenphone”. 

Hanya sayang produk buatan AS yang penggunanya cukup popular dan meluas saat pertama kali layanan telepon seluler -khususnya untuk model pertama telepon yang terpasang dalam mobil – mulai diperkenalkan di Indonesia sekitar 10 tahun y.l., semakin kini menjadi semakin tenggelam di pasaran dan menurut survey terakhir hanya menyisakan 1,52 % pemakai hp. 

Ada sebuah layanan yang namanya Mobile Muster yang melakukan jasa pembuangan limbah handphone secara baik dan terstruktur, sehingga meski tak mungkin dapat mereduksi 100 persen pembuangan limbahnya tapi setidaknya faktor perusakannya diminimalkan.

Handphone-handphone itu didekonstruksikan. Bagian-bagian yang memang tak bisa dipakai lagi akan dibuang dalam pembuangan khusus yang terproteksi dari lahan bebas. Sementara itu bagian-bagian yang bisa digunakan kembali (reuse) akan diurai dan dikelompok-kelompokkan untuk kemudian dipakai lagi pada produk-produk baru. 

Alhasil, perusahaan-perusahaan produsen handphone dan barang-barang elektronik lainnya yang bisa menggunakan bahan dasar yang sama dengan handphone pun jadi punya pilihan untuk tidak selalu mengambil bahan dasar langsung dari alam, melainkan menggunakan yang pernah dipakai sebelumnya dan telah diurai dengan baik.

Ghana, dan banyak dari negara-negara dunia ketiga seperti Cina, Nigeria, India, Vietnam,Pakistan bahkan ke negeri kita sendiri, Indonesia - tetapi kebanyakan dibuang ke Ghana. Dengan ratusan juta ton limbah dikirim setiap tahun, pembuangan limbah elektronik ilegal ke Ghana menjadi bentuk sebagai usaha ekonomi sendiri.

Dump Agbogbloshie di Accra, Ghana, adalah gurun elektronik terbesar di Afrika Barat. Penduduk setempat menyebutnya Sodom dan Gomora. Sekitar 3000 orang bekerja di Accra dan mencari nafkah dengan menjual logam dari hasil memulung sampah peralatan elektronik. TV Tua, monitor komputer, hard drive dan keyboard yang dibedah untuk setiap bagian dapat digunakan kembali seperti lensa dari disk drive dan papan sirkuit, dan dengan harga global melonjak, logam menjadi permintaan tinggi. Kabel dan papan tercetak yang dibakar untuk diekstrak guna diambil tembaga dan logam mulia yang mungkin tersisa.

Tetapi proses yang digunakan untuk mengambil logam adalah proses yang sangat beracun. Pekerja yang melakukan proses ini sering tidak memiliki peralatan pelindung dan bernapas dalam kadar tinggi bahan kimia beracun, yang kemudian dilepaskan ke atmosfir. Racun seperti timbal, kadmium dan merkuri yang dibakar di Ghana, dengan konsentrasi yang melebihi nilai normal hingga 100 kali lipat.

Kunjungi artikel lengkap lainnya di: Islam Akidahku dan Sains Teknologi
Dan juga anda bisa baca artikel serta mendapatkan informasi lainnya di:  

0 comments:

Poskan Komentar

Silahkan berikan Saran dan Kritiknya, untuk kemajuan blog dan kenyamanan bersama.